Tips Sehat dengan Berpuasa

img 20200422 wa0010
Jalan Kaki, Olahraga yang Dianjurkan Saat Berpuasa
Sumber gambar: www.benefit.co.id

Tips Sehat dengan Berpuasa

Detoksifikasi atau detoks merupakan proses pengeluarkan toksin dari dalam tubuh. Toksin adalah semua zat yang tidak diperlukan tubuh. Keberadaan toksin berlebih dalam tubuh akan meracuni sel-sel tubuh. Toksin berasal dari ampas makanan yang kita konsumsi dan makanan-makanan yang tidak tercerna. Toksin juga bisa berasal dari polusi udara, asap rokok, pestisida, obat-obatan dan bahan aditif dalam makanan instan. Berita buruknya stres, pikiran dan emosi negatif juga merupakan racun bagi sel-sel tubuh.

Toksin juga dapat diproduksi secara alamiah oleh tubuh melalui proses metabolisme. Setiap hari di dalam tubuh terjadi proses pembelahan sel-sel baru untuk menggantikan sel-sel yang sudah tua atau aus. Pada kondisi normal, sel-sel tua tersebut dibuang oleh tubuh melalui keringat, urine, dan buang air besar (BAB). Namun, perubahan gaya hidup dan pola makan serta polusi membuat proses pembuangan tersebut berjalan tidak normal. Hal ini akan membuat toksin menumpuk dalam tubuh dan menyebabkan toksemia. Toksemia adalah kondisi keracunan dalam darah yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh serta memicu timbulnya penyakit-penyakit seperti diabetes, kanker, penuaan dini, dan penyakit jantung.

Terdapat beragam metode detoks. Salah satunya adalah dengan terapi air. Caranya yaitu dengan minum air lebih banyak di waktu pagi. Setelah itu biasanya kita akan sering buang air kecil. Bersama keluarnya air seni tersebut terbuang pula racun-racun dari dalam tubuh. Detoks juga bisa dilakukan dengan memperbanyak mengonsumsi makanan berserat. Dengan cara ini maka pengeluaran feses akan menjadi lancar sehingga tidak mengalami sembelit ketika buang air besar (BAB).

Metode detoks yang lain adalah dengan berpuasa. Ketika berpuasa kita cenderung makan lebih sedikit dibanding saat tidak berpuasa. Perbandingannya sekitar 80% dari asupan kalori sehari-hari ketika tidak berpuasa. Penurunan asupan kalori tersebut berpengaruh positif bagi tubuh karena dapat meningkatkan enzim antioksidan yang berperan dalam menangkal karsinogen (penyebab kanker). Pengurangan makan juga membuat racun-racun dalam makanan yang masuk dalam tubuh menjadi lebih sedikit.

Makan merupakan pekerjaan yang berat bagi lambung dan usus. Proses pencernaan makanan di lambung dan usus membutuhkan suplai darah yang sangat banyak. Dengan demikian saat kita makan aliran darah ke seluruh tubuh menjadi berkurang. Hal ini dapat menimbulkan perasaan letih, lemas, dan tidak enak badan. Ketika porsi makan kita kurangi (dengan berpuasa) maka darah yang mengalir ke usus dan lambung akan berkurang sehingga aliran darah ke seluruh tubuh termasuk ke otot dan otak menjadi lancar. Aliran darah yang lancar ke otot akan mengurangi keletihan, depresi, dan memperbaiki ketidaknyamanan dalam tubuh. Darah yang mengalir lancar ke otak akan memperbaiki fungsi otak dan mencegah kepikunan.

Hampir semua metode detoks akan menimbulkan reaksi tidak nyaman. Efek ini merupakan reaksi normal dan tidak berbahaya. Reaksi metode detoks dengan berpuasa umumnya akan muncul pada hari ketiga setelah puasa dan akan berlangsung beberapa hari. Bentuk reaksi atau gejalanya bisa berupa sakit kepala, gejala flu atau demam, sembelit, mual, kembung, dan diare. Sebagian orang lain mungkin akan merasakan sulit tidur, lesu, mudah tersinggung, uring-uringan, napas bau dan mudah merasakan kedinginan.

Berikut anjuran yang sebaiknya dilakukan saat kita sudah mengalami beragam reaksi akibat metode detoks puasa. Perbanyak minum baik saat berbuka maupun ketika sahur. Minuman yang dianjurkan adalah air putih dan jus buah segar. Sebaiknya hindari konsumsi makanan berat seperti daging dan makanan berlemak (gorengan, santan, krim). Kurangi juga konsumsi makanan kaleng, instan, dan yang mengandung bahan aditif (pengawet dan pewarna). Perbanyak konsumsi makanan organik.

Selain itu, cara lain mengatasi reaksi detoks metode puasa adalah dengan beristirahat di tempat sejuk dan sirkulasi udaranya baik. Jangan berpanas-panas di bawah terik matahari. Hindari juga aktivitas berlebihan yang memakan energi seperti bekerja keras dan berolahraga berat.

Puasa yang Menyehatkan

Berikut tips agar puasa yang kita lakukan adalah puasa yang benar sehingga meningkatkan kesehatan tubuh. Makanlah sahur sebelum berpuasa. Makanan yang dikonsumsi saat sahur hendaknya memenuhi unsur-unsur yang dibutuhkan tubuh yaitu meliputi karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral.

Ketika sudah masuk waktu berbuka puasa jangan langsung makan besar. Sebaiknya mulai dengan minuman dan makanan yang manis dan hangat. Hindari minum es atau minuman bersoda karena dapat membuat pencernaan tidak berfungsi secara normal.

Beri jeda sesudah berbuka dengan menunaikan solat mahgrib terlebih dahulu baru kemudian makan besar (nasi dan lauk pauk). Tambahkan sayur dan buah dalam menu sahur dan buka puasa. Bila setelah melakukan salat tarawih merasa lapar lagi maka sebaiknya mengonsumsi buah-buahan saja.

Meskipun merasa lemas ketika menjalankan puasa sebaiknya kita menghindari terlalu banyak tidur atau bermalas-malasan karena hal ini akan mengganggu metabolisme tubuh. Lakukan kegiatan ringan seperti olahraga stretching (senam peregangan), yoga, dan jalan kaki. Aktivitas tersebut dapat memperlancar peredaran darah dan mempercepat proses pembuangan pada usus besar. Selain itu usahakan selalu berpikiran positif agar racun dari pikiran tidak mengotori tubuh.

*Prieharti, berkarya di Pondok Pesantren Modern Zam-Zam Cilongok

Referensi:

1)Keajaiban Enzim Awet Muda/Hiromi Shinya, 2014.

2)Nikmatnya Puasa Senin Kamis/Dyayadi, 2010.

3)Usia 40 Tak Perlu Makan/Yumi Ishihara, 2015.

4)Tetap Bugar Saat Puasa & Lebaran/Pangkalan Ide, 2011.

Next Post

DI PONDOK BORO SEMARANG ADA PERANTAU ASAL GOMBONG - KEBUMEN

Jum Apr 24 , 2020
DI PONDOK BORO SEMARANG ADA PERANTAU ASAL GOMBONG – KEBUMEN […]
img 20200423 wa0001