SOSIALISASI PEMANTAPAN RELAWAN KOTAK KOSONG, HADIR PERWAKILAN 26 KECAMATAN SE KABUPATEN KEBUMEN

img 20201110 wa0039

KebumenBanyumaspos.com

Rabu 10/11/2020. Melihat secara kasap mata dan mencermati perkembangan politik ditingkat lokal khususnya Kebumen, Jawa Tengah pada Umumnya, menjadi begitu sangat menarik, adanya Gonjang Ganjing Demokrasi, dunia politik baru Melahirkan Kotak Kosong sehingga suasanapun mjd baru. Khususnya pada pilkada kebumen tanggal 9 Desember tahun 2020 mendatang, dan ini merupakan sejarah di kab kebumen, karena kontestan dalam pilkada khususnya di Kebumen hanya ada calon tunggal saja. Secara otomatis, calon tunggal tersebut akan berhadapan dengan “Kotak Kosong” disinilah adanya demokrasi yang sangat menarik dalam dunia perpolitikan.

Sosialisasi ini di laksanakan pada hari minggu tanggal 07/11/2020 bertempat di Pendopo Rumah Bapak Prio Priambodo Desa Tunjungseto. Turut hadir, para relawan dan berbagai elemen masyarakat se kabupaten kebumen melalui perwakilannya. Relawan dari tokoh Masyarakat, agama, tokoh politisi kebumen, beberapa mantan Dpc partai, pensiunan ASN/PNS dan dari pengusaha serta beberapa LSM. Semangat persatuan inilah, KOKO sangat optimis dan yakin bahwa dipilkada tahun ini KOKO Menang, Kebumen Bangkit dari keterpurukan dan kemiskinan.

Panggih sebagai Nara Sumber menyampaikan, kotak kosong karena adanya politik praktis dengan adanya birokrasi yang tidak seimbang dan adanya kotak kosong di lahirkan oleh 9 partai politik yang di borong oleh calon tunggal. Dengan demikian secara otomatis calon tunggal lah yang melahirkan KOTAK KOSONG. Kotak Kosong sebagai tandingannya calon tunggal di Pilkada Kebumen tahun ini. Relawan kotak kosong ada di mana mana, Kotak Kosong secara masif pergerakannya, luar biasa semangatnya dan solid terhadap birokrasi perpolitikan di kebumen namun tidak terstruktur dan terorganisir, karena Kotak kosong bukan peserta pemilu. Kotak kosong tidak pernah kampanye tetapi kotak kosong pergerakannya justru membantu mensosialisasikan adanya Pilkada di kebumen tanpa adanya biaya dari pemerintah, justru di setiap kegiatan KoKo menggunakan dana pribadi secara gotong royong dan sumbangan dari masyarakat.

img 20201110 wa0040
Menurut Panggih, Mengapa sebagian besar anggota DPRD Kebumen seolah “senyap” baik di lapangan maupun di jagad medsos dalam mendukung paslon yang di ajukan Partainya? Apakah Karena ada ketidakcocokan dengan paslon yang diajukan oleh partai? Atau kurang adanya koordinasi pembagian tugas sosialisasi diantara mereka? Atau juga karena mereka takut di “hukum” rakyat saat pilkada berikutnya pada pemilu 2024? Mereka sudah dipilih rakyat dan di SUMPAH UNTUK MEWAKILI RAKYAT, RAKYATLAH YANG MEMILIHNYA. Mereka seharusnya taat terhadap perintah partai, namun disisi lain hati nurani mereka bicara lain bahwa, DEMOKRASI ADALAH SUARA RAKYAT BUKAN SUARA PIMPINAN PARTAI. Padahal harapan partai pengusung yang begitu kompak, mengkotak kosongkan Kebumen tentu dengan harapan akan dengan mudah paslon yang di usung dengan enaknya melenggang ke kursi K-1 & K-2, (BUPATI TERPILIH). Tetapi melihat riak riak perpolitikan lokal Kebumen, kelihatanya kok ya, tidak segampang itu.

“Kotak Kosong”, yang awalnya tidak ada yang meliriknya, justru menjadi “kuda Hitam dan menakutkan”, bagaikan Hantu gentayangan, ungkap panggih. Hal ini yang harus diperhitungkan dengan cermat dan matang, dan tidak sembarangan…!!! Kharisma ‘Kotak Kosong’ justru seolah menjadi magnet ditengah tengah masyarakat, khusunya di akar rumput/ masyarakat bawah saat ini, dan ini sungguh realita di lapangan, apa lagi di dunia maya, Facebooke yang bisa di simak oleh seluruh Indonrsia bahkan Manca Negara, Kotak kosong Menang Kebumen Kondang ini Slogannya.

img 20201110 wa0041

Kenapa demikian, karena ada kesadaran secara kolektif, bahwa berdemokrasi itu bukan hanya dari atas, sekedar melayani kepentingan para elit, tetapi juga tumbuh dari bawah, akar rumput yang ingin menentukan masa depanya sendiri. Selama ini yang lebih banyak terjadi, suara suara akar rumput yang begitu potensial dalam Demokrasi dan Perpolitikan terkadang hanya sebatas dimanfaatkan manakala memasuki masa pemilu, baik pilkades, pilkada, pilgup pileg dan pilpres, dan setelah terpilih dan menjadi pejabat mereka seolah olah dilupakan. Sehingga kebijakan kebijakan yang lahir terkadang kurang berpihak kepada akar rumput. Hal inilah yang menjadi Traumatik Berat Masyarakat sehingga tidak percaya lagi kepada PARTAI POLITIK. Kehadiran “Kotak Kosong” seolah menjadi momentum untuk melawan ketimpangan dalam berdemokrasi itu.

“Kotak Kosong”, menjadi pemicu bangkitnya kesadaran masing masing individu yang peduli dengan jalanya politik dan demokrasi, bahwa perlunya ada penyeimbang kebuntuan yang selama ini dikuasai oleh oligarkhi, termasuk dalam tataran politik lokal. Karena berangkat dari kesadaran pribadi secara kolektif, para pendukung “Kotak Kosong”, melangkah dengan niat suci untuk membawa perubahan Kab Kebumen yang lebih baik. Tinggal bagaimana kedepan pengawalan “Kotak Kosong”, sesuai dengan aturan yang ada dan berlaku. Memang dibutuhkan sosok sosok yang luar biasa, mau dengan sigap berjuang, sampai selesainya PILKADA dan sampai selesai pilkada pun, relawan kotak kosong akan mengawal pemerintahan dan akan menjadi pengontrol jalannya pemerintahan di kabupaten Kebumen (Oposisi).

Penulis : Adiyatama

Next Post

Dua Bulan Terakhir, Sudah 15 Warga Di Kecamatan Cibeber, Terkonfirmasi Positif Covid 19

Rab Nov 11 , 2020
CIANJUR – Banyumaspos.com “Covid itu ada,masyarakat harus lebih waspada,dan laksanakan […]
img 20201111 092215