SMAN 1 BATUR GELAR SEMINAR KEBENCANAAN

img 20200224 wa0008

img 20200224 wa0009

SMAN 1 BATUR GELAR SEMINAR KEBENCANAAN

Banjarnegara Banyumas pos 24/02/2020. Bermitra dengan Politeknik Banjarnegara dan Waku Pro Japan, baru-baru ini SMA N 1 Batur menggelar Seminar Kebencanaan 2020 bertema Optimalisasi Kapasitas Kepala Sekolah, Guru, dan Masyarakat dalam Pendidikan Tanggap Bencana. Hadir sebagai nara sumber Dr Fujikawa Yoshinori dari Waku Pro Japan dan Dr Tuswadi, Ilmuwan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) sekaligus sebagai Direktur Politeknik Banjarnegara.
Linovia Karmelita, Kepala Sekolah, mengatakan bahwa seminar tersebut merupakan salah satu implementasi dari Nota Kesepakatan Kerjasama Pendidikan antara SMA N 1 Batur dengan Waku Pro Japan yang telah ditandatanganinya pada 5 Februari 2020 di Hijiyama University di kota Hiroshima Jepang.
“Beberapa minggu sebelumnya kami hadir di Hiroshima untuk penandanganan MoU dengan Waku Pro Japan; salah satu bentuk kerjasamanya adalah pemberangkatan guru atau peneliti tamu ke SMA N 1 Batur. Selama seminggu Dr Fujikawa mengajar dan memberikan seminar di sekolah kami. Dan sepertinya kegiatan ini merupakan yang pertama di sekolah kabupaten Banjarnegara,” jelas Linovia.
Tanggap Bencana
Dr Fujikawa dalam presentasinya menjelaskan mekanisme terjadinya erupsi gunung api serta langkah-langkah efektif untuk terhindar dari efek merugikan letusan. Di Jepang, peringatan dini akan terjadinya bencana alam seperti tsunami atau gunung meletus sangat ditaati oleh masyarakat sehingga mereka langsung mengungsi ke tempat-tempat yang lebih aman sebelum segala sesuatunya memburuk. Dr Fujikawa sempat terkejut dan aneh melihat sebagian masyarakat Indonesia yang sepertinya tidak takut pada efek erupsi gunung api seperti yang terjadi di Yogyakarta saat Gunung Merapi meletus di tahun 2010; dia banyak melihat foto dan video bagaimana anak-anak sekolah dasar di wilayah lereng gunung merapi tidak takut, malah asyik melihat wedhus gembel (awan panas) yang keluar dari puncak Gunung Merapi; bahkan dalam situasi seperti itu para guru tak terlihat memberikan peringatan kepada peserta didik untuk segera mengungsi, menjauh dari kejaran awan panas. Uniknya beberapa orang asyik mengambil foto. Di Jepang, kata Dr Fujikawa, tindakan seperti itu tidak akan terjadi. Mobilisasi masyarakat Jepang dalam mengantisipasi dampak bencana alam sangat rapi dengan bekal pembiasaan latihan evakuasi baik melalui jalur pendidikan di sekolah dari PAUD sampai SLTA maupun di perguruan tinggi serta di lingkungan masyarakat.
Sementara Dr Tuswadi lebih banyak membahas tata cara membangun sekolah aman bencana. Sekolah aman bencana merupakan sekolah yang menerapkan standar sarana dan prasarana serta budaya yang mampu melindungi warga sekolah dan lingkungan di sekitarnya dari bahaya bencana. Menurutnya sekolah aman bencana merupakan amanat Undang Undang sehingga setiap sekolah wajib mengusahakan sarana dan prasarana serta lingkungan yang benar-benar aman bagi guru dan peserta didiknya. Untuk merancang sekolah aman bencana setidaknya dibutuhkan dua faktor penentu yakni faktor struktural dan non-struktural. Faktor struktural meliputi lokasi aman dari bencana, struktur bangunan aman, disain dan penataan kelas aman, dan dukungan sarana serta prasarana aman; sedangkan factor non-struktural meliputi peningkatan pengetahuan, sikap dan tindakan warga sekolah, kebijakan sekolah, perencanaan kesiapsiagaan, dan mobilisasi sumberdaya.
Dengan dukungan penuh dari peserta didik, orang tua/wali, guru/pendidik, komite sekolah, organisasi non-pemerintah (NGO), maupun pemerintah dan media massa, SMA N 1 Batur, menurut Dr Tuswadi, memiliki potensi yang besar untuk tumbuh dan berkembang menjadi sekolah aman bencana.(red Nur s)

Next Post

POLRES CIANJUR POLDA JABAR PANTAU PENGAMANAN TAHAPAN PENYERAHAN BERKAS DUKUNGAN CALON PERSEORANGAN PILKADA SERENTAK KABUPATEN CIANJUR TAHUN 2020

Sen Feb 24 , 2020
POLRES CIANJUR POLDA JABAR PANTAU PENGAMANAN TAHAPAN PENYERAHAN BERKAS DUKUNGAN […]
img 20200224 wa0012