Penguatan Apoteker Mengajar Melibatkan Ilmuwan Politeknik Banjarnegara Di Aula Adiguna

img 20200307 wa0011

img 20200307 wa0010

Penguatan Apoteker Mengajar Melibatkan Ilmuwan Politeknik Banjarnegara Di Aula Adiguna.

Banjarnegara, Banyumas Pos 07/03/2020. Apoteker sebagai tenaga kesehatan garda terdepan yang menggeluti masalah obat di era digital seperti sekarang ini dituntut untuk peduli dan berupaya mengambil peran meminimalisir penyalahgunaan obat dan narkoba di kalangan remaja. Peran apoteker di bidang pelayanan kefarmasian tidak hanya sebatas memproduksi atau menjual obat saja, tetapi yang lebih penting adalah memastikan obat digunakan dengan benar dan tepat. Kedua hal mendasar ini mendorong Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) untuk melaksanakan Program Edukasi berkelanjutan yang dinamakan “Apoteker Mengajar”. Kegiatan ini sekaligus untuk memperkenalkan profesi apoteker kepada generasi muda.
Menurut, Heny Setyo Tur Istanto, Ketua Pengurus Cabang IAI Banjarnegara, Program Apoteker Mengajar sudah diluncurkan pada tahun 2018, bahkan IAI Jawa Tengah pernah meraih Rekor Muri karena menerjunkan ribuan apoteker dalam Program Apoteker Mengajar di sekolah-sekolah setingkat SD, SLTP, dan SLTA.
“IAI Banjarnegara juga turut mensukseskan Program Apoteker Mengajar; hanya saja karena tidak berlatar belakang pendidikan, tentunya kami butuh belajar teknik-teknik menyampaikan materi kepada peserta didik secara efektif. Oleh karena itu hari ini di kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Apoteker dan In House Training (IHT) Apoteker Mengajar, kami menghadirkan nara sumber, Dr Tuswadi, ilmuwan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia dari kalangan guru/pendidik. Bersama beliau kami banyak belajar olah dan penggunaan bahasa serta gesture untuk lebih menghidupkan suasana kelas di Program Apoteker Mengajar,” jelas Heny di sela-sela pelaksanaan IHT beberapa hari lalu.
Tujuh Tata Cara Mengajar Efektif
Dalam paparannya bertajuk Teknik Olah Bahasa & Gesture di Hadapan Generasi Z, pertama, Dr Tuswadi sangat mendukung program Apoteker Mengajar karena menurut banyak media tidak sedikit generasi muda yang terlibat penyalahgunaan obat, maraknya obat kadaluwarsa, minimnya muatan pengetahuan obat-obatan di kurikulum sekolah umum, dan kurangnya wawasan keluarga mengenai obat-obatan. Kedua, pengetahuan seputar obat-obatan yang perlu disampaikan kepada peserta didik harus kontekstual, praktis, dan berguna untuk survive dalam kehidupan.
Agar tampil sebagai pengajar yang ideal, apoteker harus memiliki kepribadian yang bangga terhadap profesi dan menguasai materi serta tata cara penyampaiannya kepada peserta didik. Berdasarkan pengalamannya ssebagai guru/pendidik selama puluhan tahun, Dr Tuswadi menjelaskan setidaknya ada 7 tata cara mengajar yang efektif yaitu memastikan penampilan lahir dan batin yang sempurna, menyesuaikan bahasa dengan usia peserta didik, mengawali proses mengajar dengan mengajak berdoa dan bersyukur kepada Tuhan, memperkenalkan diri secara memukau, menyatakan tujuan belajar secara meyakinkan, menyampaikan materi secara komunikatif, serta m emperhatikan kualitas vokal dan bahasa tubuh. (red Nur s).

Next Post

Kasrem 071/Wijayakusuma Hadiri Pembukaan Grasstrack Motocross 2020 Piala Bupati Banyumas

Ming Mar 8 , 2020
Kasrem 071/Wijayakusuma Hadiri Pembukaan Grasstrack Motocross 2020 Piala Bupati Banyumas […]
img 20200307 wa0013