MINIMNYA INFORMASI TENTANG RADIASI WARGA RT 38 DESA SIDAURIP BINANGUN ALOT BERI IZIN BANGUNAN TOWER BTS.

img 20200721 wa0044

Cilacap ,Banyumas Pos 19 Juli 2020 Malam ini rapat RT khusus . Menghimpun pendapat masyarakat mengenai rencana pembangunan menara BTS (Base Transciever Station) di atas lahan seorang warga. Si empunya lahan itu tentulah merasa memperoleh berkah dari langit jika kontrak dengan salah satu vendor telekomunikasi besar di Indonesia itu jadi terlaksana. Dengan rencana lama kontrak 20 tahun, dan nilai sewa lahan pada kisaran lumayan per tahun, ini rezeki yang luar biasa. Hanya menyewakan lahan seluas 12 meter per segi saja! Bahkan menyewakan rumah dengan luas yang sama pun tak akan sebegitu mahal.
Sayang, pertemuan dengan para warga, dengan Sukarso Ketua RT 38 sebagai fasilitator di dampingi ketua RW 8 Warhanudin dan Tarsan/Gosan Kadus IV belum peroleh kata sepakat menyetujui pembangunan tower tersebut. Berbagai alasan warga yang tidak setuju diutarakan. Antara lain kekhawatiran terhadap dampak radiasi sinyal yang dipancarkan BTS bisa merusak kesehatan. Ketidaksepakatan pembangunan tower kemudian berkembang karena kecemburuan penduduk sekitar terhadap warga yang lahannya akan disewa.
“Saya takut bangunan Tower roboh dan mengenai rumah ?”, celetuk Darwin menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh nara sumber dari pengurus SITAC 1. Adapun yang menjadikan kebimbangan diantaranya adalah efek radiasi terhadap lingkungan.
Sosialisasi dari pengurus SITAC menjelaskan dengan detail kepada warga yang hadir diataranya adalah Banyak fakta yang muncul di berbagai daerah yang menyatakan bahwa keberadaan menara telekomunikasi (tower) memiliki resistensi/daya tolak dari masyarakat, yang disebabkan isu kesehatan (radiasi, anemia dll), isu keselamatan, hingga isu pemerataan sosial.
Isu pertama yaitu isu kesehatan berkenaan dengan pancaran radiasi dari gelombang radio elektromagnetik dari transmitter pada menara telekomunikasi. Hal ini semestinya perlu disosialisasikan ke masyarakat bahwa kekhawatiran pertama (ancaman kesehatan) tidaklah terbukti. Radiasinya jauh di bawah ambang batas toleransi yang ditetapkan WHO.
Isu kedua adalah isu keselamatan, dimana masyarakat dan binatang yang ada di area bawah tower beresiko tertimpa runtuhan tower apabila tumbang. Hal ini menjadi perhatian pemerintah dan penyelenggara dengan melakukan pengurusan Izin (IMB) terlebih dahulu dengan memperhitungkan resiko tersebut. Biasanya tower dibangun pada area/lahan kosong yang pada radius jatuhnya tower tidak ada penduduknya. Kalau tower dibangun di area pemukiman, maka persyaratan pendirian tower harus terlebih dahulu diproses dan di penuhi, seperti izin dari masyarakat sekitar (yang berada pada area radius tower) dan jaminan keselamatan pemilik tower terhadap penduduk.

img 20200721 wa0045
Pada Tower juga dilengkapi dengan grounding atau system pentanahan, yang gunanya adalah penangkap petir, dimana kalau terjadi petir maka yang duluan disambar adalah kutub negative yang terdekat dengan awan atau ion positive , dimana pada puncak tower dipasang finial dari tembaga dan dialirkan ketanah dengan kabel BCC, sehingga aliran petir cepat mencapai tanah dan mengamankan daerah sekitarnya dari sambaran petir, karena sifat dari arus listrik adalah mencari jalan terpendek mencapai tanah, dan hilang di netralisir oleh bumi.
Isu keempat adalah banyaknya tower/menara telekomunikasi yang di dirikan tanpa izin dan atau dengan memiliki izin palsu alias bodong. Hal ini menyebabkan kerugian daerah atas hak PAD yang seharusnya diperoleh dari biaya izin dan pajak. #RED Kims

Next Post

KRI YOS 353 TANGKAP 2 KAPAL PENCURI IKAN BERBENDERA VIETNAM

Rab Jul 22 , 2020
Banyumas Pos, Jakarta Dalam menjaga Kedaulatan dan Ketahanan Negara RI […]
img 20200722 wa0001