Ilmuwan Muda Politeknik Banjarnegara Dan Ilmuwan Jepang Ikut Mendidik Sekolah Bebas COVID-19

img 20200317 wa0025

img 20200317 wa0026

img 20200317 wa0027

Ilmuwan Muda Politeknik Banjarnegara Dan Ilmuwan Jepang Ikut Mendidik Sekolah Bebas COVID-19

Banjarnegara Banyumas Pos (17/03/2020). Dalam dunia penyebaran kuman termasuk virus Corona (COVID-19), anak-anak sgekolah termasuk kelompok yang rentan. Keaktifan anak-anak dalam berinteraksi dengan sesama di lingkungan sekolah selama jam belajar menjadi sarana efektif dalam penyebaran kuman; apalagi jika kondisi lingkungan sekolah kurang atau tidak sehat. Kemarin (17/3), dua ilmuwan Indonesia-Jepang, Dr Tuswadi dan Dr Fujikawa Yoshinori, sehari sebelum sekolah ditetapkan libur dan anak-anak belajar di rumah, terjun ke SMP N 2 Pejawaran di desa Karangsari Kecamatan Pejawaran Kabupaten Banjarnegara untuk memberikan pendidikan tanggap bencana biologi (biological disaster) terkait virus korona. Kegiatan tersebut dikemas dalam Kelas Inspirasi Ilmuwan Indonesia-Jepang Go to School 2020.
Purnomo, S.Pd., Kepala Sekolah, mengatakan, dihadirkannya dua orang ilmuwan dari Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI), Dr Tuswadi dan dari Hijiyama University, Dr Fujikawa, sengaja untuk memberikan pemahaman kepada seluruh peserta didik kelas VII dan VIII mengenai pentingnya menjaga perilaku hidup sehat, terlebih-lebih di masa sekarang Indonesia sedang dalam kondisi siaga virus korona.
“Tadi kedua pembicara telah begitu runtut dan jelas memberikan edukasi tanggap bencana—termasuk tip menjaga kebiasaan baik agar terhindar dari paparan kuman dan virus Corona. Kami yakin anak-anak banyak belajar sehingga mereka makin sadar pentingnya menjaga diri dan lingkungannya agar tetap sehat,” jelas Purnomo.
Tujuh Langkah
Untuk menjadi generasi tanggap bencana, anak-anak sekolah, menurut Dr Tuswadi harus dibiasakan untuk (1). Hati-hati di musim hujan; agar menjauh dari sungai dan tidak berada di tanah lapang untuk menghindari petir, (2). Di rumah—menjaga kebersihan dan kerapian kamar dan seisi rumah agar bebas dari kuman penyakit, (3). Di sekolah—menjaga kebersihan dan kerapian kelas serta lingkungan sekolah, (4). Menaman pohon atau bunga-bunga di lingkungan sekolah untuk konservasi dan menambah O2 agar sekolah sejuk dan nyaman; (5). Membuka pintu dan semua jendela kelas selama proses pembelajaran agar O2 cukup; (6). Melaporkan setiap kerusakan gedung sekolah atau bagian rumah kepada guru/orang tua untuk segera ditangani; (7). Terkait virus Corona, anak-anak harus membiasakan berwudhu, jika flu memakai masker, sering cuci tangan menggunakan sabun, ganti baju tiap kali bepergian dan memasukannya ke mesin cuci, serta mandi.
“Kuman menyebar melalui kontak dengan benda-benda atau manusia yang terpapar kuman; jadi kami sarankan agar di mana pun termasuk tempat umum anak-anak jangan suka menyentuh barang-barang dan tidak berdekatan dengan orang sakit. Semua sekolah harus dibiasakan menyediakan botol sabun cair di toilet sehingga anak-anak terbiasa cuci tangan memakai sabun sehabis buang air. Hand-sanitizer juga selayaknya dipasang di depan kelas—praktek semacam ini sudah lama diterapkan di seluruh sekolah Jepang agar warga sekolah terbebas dari kuman berbahaya,” tandas Dr Tuswadi. (red Nur s)

Next Post

CASA ROYAL HUNIAN MENGGIURKAN BERSUBSIDI DI KAB.BANYUMAS

Sel Mar 17 , 2020
CASA ROYAL HUNIAN MENGGIURKAN BERSUBSIDI DI KAB.BANYUMAS Banyumas, Banyumas Pos […]
img 20200317 wa0028