Batoro Katong : Penjaga Kesenian Reog dan Penyebar Agama Islam Awal di Ponorogo

 

img 20201025 wa0028
PONOROGOBanyumaspos.com

Ketika memasuki gerbang bertuliskan “Makam Batoro Katong”,suasana sangat tenang, hanya anak-anak kecil bermain di pelataran masjid,yang memainkan cublek-cublek suweng.

Di komplek pemakaman yang berada di ujung sebuah desa bernama Sentono – Ponorogo Jawa Timur, juga terdapat sebuah masjid, pendopo dan Sekolah Dasar, Semua fasilitas itu terlihat terawat dan dikelola dengan baik, Kecuali beberapa tembok yang di biarkan menghitam.

Gerbang pintu yang harus Anda lewati ketika berziarah ada 5 gerbang dan 6  pintu makam jika di hitung, Melihat dari kedua angka itu, kita akan melihat pada jumlah dari Rukun Islam (5),Rukun Iman (6).Pada maknanya.

Menginjakkan kaki di setiap daun pintunya, keislaman Anda bukan lagi untuk di pertanyakan.Selain itu,cungkup makam Batoro Katong demikian cukup mengesankan.Sebuah cungkup khas jawa.Sebagai prasyarat untuk bisa melewatinya, Anda harus menunduk untuk menghormati alias bersikap tawaduk.

img 20201025 wa0029

Menurut Bopo Gunawan Mangun Sudiro ( Ketua Perguruan ilmu kasedan jati pusat magetan Jawa Timur) Ki Batoro Katong sendiri merupakan putra hasil pernikahan dari Prabu Brawijaya V,(Sri Kertawijaya),dengan putri Champa(Darawati) yang seorang muslimah.Kondisi Kerajaan Majapahit saat itu kurang baik saat Prabu Brawijaya V, mempersunting putri Champa.Banyak pihak kurang setuju,Brawijaya beristri seorang muslimah.

Ketidaksetujuan mereka berangkat dari informasi yang lebih spesifik berdasarkan ihwal keimanan, Bergantinya haluan Kerajaan Majapahit yang beriman Hindu-Budha beralih ke Islam, Kritik pedaspun tak segan di alamatkan ke Prabu Brawijaya V.

Sepeti yang di lakukan oleh Ki Ageng Kutu,dia menggambarkan kepala Macan (lambang kelelakian – Prabu Brawijaya), takluk di tunggangi Dadak Merak (lambang perempuan- Putri Champa).Belakangan,wujud dari kritik itu di namai dengan Reog.

Selain mengkritik, Ki Ageng Kutu merekomendasikan untuk membrontak kepada Majapahit.Tapi bau pengkhianatan itu tercium oleh Majapahit yang lantas mengutus Batoro Katong untuk menumpas Ki Ageng Kutu.
Penumpasan itu berhasil dan Batoro Katong pada kurun tahun 1456 diangkat sebagai Adipati Ponorogo di era kepemimpinan Majapahit di bawah kuasa saudaranya sendiri yakni Hyang Purwowaseso – anak sekaligus sebagai Sri Kertawijaya yang meninggal pada tahun 1451M.

img 20201025 wa0032

Proses berdakwah melalui alkukturasi budaya salah satunya dengan pernikahan adalah upaya dari Wali Songo.

Mereka menginginkan Kerajaan yang gagah mengusai Nusantara tersebut beriman dan berpegang pada ajaran agama Islam.

Meskipun demikian, Prabu Bawijaya V mengumumkan dirinya tetap pada ajaran dahulu, Namun menurut Bopo Gunawan Mangun Sudiro,(2014) Sri Prabu Kertawijaya di kenal sebagai Raja Majapahit pertama yang menaruh perhatian besar kepada perkembangan agama Islam. Pada saat itu,wali songo mendapat momentumnya.Hal itu terjadi dengan belakangan diketahui bahwa menurut Gus Dur dalam membaca Sejarah Nusantara (2011) di akhir kekuasaannya dalam kecamuk agama internal Majapahit, Brawijaya V lebih memilih berkhalwat. Dan melepaskan segala legitimasi dunia yang melekat padanya dan berdiam diri di Gunung Lawu kemudian mukso.

Penulis : Wiji L

Next Post

JELANG PILKADA POLRES CIANJUR SIAPKAN 35 MOTOR DINAS BARU UNTUK BHABINKAMTIBMAS

Sen Okt 26 , 2020
CIANJUR – Banyumaspos.com Sebanyak 35 sepeda motor dinas baru diserah […]
img 20201026 wa0010