Bancangan Tempat Pamuksan Ki Ketut Surya Alam

img 20201021 wa0061

PONOROGOBanyumaspos.com

Menelusuri petilasan Bancangan tempat moksanya Ki Ageng Kutu yang terletak di Desa Bancangan Kecamatan Sambit kabupaten Ponorogo Jawa Timur, kami mencoba menemui Sujito (65) juru kunci petilasan Bancangan.

Kami wartawan banyumaspos.com mencoba untuk menguak sejarah petilasan bancangan dari Sujito sang juru kunci, inilah penuturan Sujito tentang sejarah petilasan Bancangan.

Memenurut Sujito, Petilasan Ki Ageng Kutu atau dikenal dengan Ki Gedhe Ketut Surya Alam adalah seorang punggawa Majapahit yang melarikan diri ke Wengker karena kecewa, Kekecewaan sang punggawa Majapahit tersebut disebabkan Prabu Brawijaya V yang memerintah Majapahit yang tindakannya kurang tepat, karena menimang istri muda dari wilayah Champa.

“Istri muda dari Champa itu beragama Islam”, ujar Jito, Sehingga dalam pelariannya Ketut Surya Alam menetap di Suru Kubeng, yang kemudian pada perkembanganya Suru Kubeng menjadi sebuah pedukuhan Kademangan Kutu, menurut Jito itu merupakan awal berkembangnya masyarakat Ponorogo.

Karena tidak setuju dengan pemerintahan Majapahit, Surya Alam tidak berhenti untuk menghadap Prabu Brawijaga, kemudian Prabu Brawijaya mengutus Putranya Raden Katong atau Bathara Katong untuk mencari keberadaan Surya Alam di Suru Kubeng yang masuk wilayah bekas Kerajaan Wengker.

Singkat cerita, kemudian menjadi permusuhan antara Surya Alam dengan Prabu Brawijaya V, Meskipun telah dilakukan diplomasi dengan cara halus, salah satunya dengan menikahi Putri Surya Alam yang bernama Niken Gandani oleh Bathara Katong, namun tidaklah membuahkan hasil.

Konfrontasipun terjadi beberapa waktu kemudian, dan Ki Ageng Surya Alam memilih berdiam diri di Gunung Bacin atau Balik Bacin di Desa Bancangan Kecamatan Sambit.

Menurut Sunyoto,salah seorang warga masyarakat sekitar Bacangan, “dulu ada beliknya atau sendang, namun pada saat datangnya Pasukan Ponorogo, untuk memburu Surya Alam, dirinya hilang di tempat tersebut.” Ujarnya.

Hilangnya Surya Alam ditandai dengan bau yang tidak sedap muncul dari belik itu, kemudian disebut Belik Bacin (Buku Babat Ponorogo Purwo Wijoyo)

Tempat mukso Ki Ageng Kutu tersebut pada tahun 2000 di masa Bupati Markum Singo Dimejo dibangun dengan baik,sehingga memudahkan para peziarah datang di lokasi tersebut.

Sunyoto menambahkan, para peziarah dengan berbagai hajat datang untuk berdoa di pamoksan Ki Ageng Kutu,pada malam Jumat Legi atau Jumat Kliwon, para peziarah tersebut selain dari dalam kota Ponorogo tidak sedikit yang datang dari luar kota.Tempat Mukso atau hilang jiwa raganya menuju Tuhan (dalam ajaran agama Hindu*Red) saat itu dengan cungkup baik.Karena  Beliknya di telan jaman.
Dalam cungkup berukuran tidak lebih dari 25 m persegi itu ada sebongkah batu yang di gunakan oleh para peziarah untuk menjadi tempat dupa atau kemenyan sebagai pengharum ruangan sebelum berdoa.

Penulis : Sutrisno
.

 

Next Post

Jelang MusimTanamTiba Proyek Bendungan SGC Dipercepat

Kam Okt 22 , 2020
CIANJUR – Banyumaspos.com Dengan sudah memasukinya musim tanam pada bulan […]
img20201021154833